Cerita Tentang The Doll, yang Sukses Bikin Jejeritan di Bioskop

147218568199231_300x430

Saya dan suami tertarik nonton film The Doll setelah melihat trailer-nya. Saya pribadi punya feeling ini film kayaknya lumayan bagus. Ada alasan utama kenapa saya merasa harus mengeluarkan uang untuk nonton film ini di bioskop, saya ingin melihat perkembangan film horor Indonesia. Saya ingat, waktu jaman saya kuliah (2008-2012), film horor buatan Indonesia sempat membludak pasokannya di layar bioksop tetapi sayangnya rata-rata tidak berkualitas dan malahan menjurus kepada horor porno.

Sebelum nonton The Doll, film horor terakhir yang saya tonton adalah The Conjuring 2 (2016). Jujur saya tidak terlalu puas. Efek ketakutannya kurang. Mungkin bukan cuma saya yang merasakan ini, buktinya hantu Valak jadi bahan guyonan, meme-nya tersebar di mana-mana dan bikin orang-orang ngakak saat melihatnya hehe.

Eh maaf kok malah jadi ngomongin Valak. Ok, balik lagi ke The Doll. Saya punya rumus simpel dalam menilai sebuah film itu bagus atau tidak. Saya sarankan jangan tiru rumus ini karena saya bukan ahli perfilman. Saya cuma mantan wartawan (yang pernah meliput film) penyuka film Indonesia, hehe.

Rumusnya buat saya adalah sebuah film dapat dikatakan bagus jika bisa menimbulkan efek sesuai genre-nya. Kalau itu film drama ya sudah seharusnya kita sebagai penonton terhanyut dalam ceritanya, misalnya ikut menangis tersedu-sedu atau baper abis. Kalau itu film thriller ya kita ikut berdebar-debar menontonnya. Kalau itu film komedi ya kita bisa tertawa lepas. Kalau itu film fantasi ya kita jadi ikut terbawa imajinasi liarnya. Nah kalau film horor, ya kita ketakutan.

Hahaha simpel banget ya? Eits jangan sepelekan rumus ini karena kadang eh sering malah saya nonton film tapi trus saya malah jadi boring pengen cepet keluar bioskop gara-gara nggak dapet feel sesuai genre-nya. Saya pernah nonton sebuah film komedi tanpa ketawa lepas, cuma satu adegan yang bikin saya benaran ngakak. Sisanya paling senyum atau ketawa kecil. Karena menurut saya itu film terlalu dipaksakan lucunya. Apa judulnya? Rahasia deh nanti tulisan ini jadi nggak jelas arahnya, kebanyakan bahas film lain hahaha. Ini cuma mau ngegambarin rumus yang saya maksud aja.

Okey, let’s talking about The Doll. Saya dan suami cukup antusias untuk nonton ini, apalagi bioskop juga penuh, kami sama-sama menaruh ekspektasi film ini cukup bagus. Pembukaan cerita dibuat mirip The Conjuring ataupun The Conjuring 2, yaitu sepasang paranormal yang berhadapan dengan pasien. Tujuannya tentu untuk memberi gambaran tentang tokoh hantu yang akan muncul di film. Adegan-adegan pembuka ini semacam pemanasan, karena penonton akan merasa mulai deg-degan melihat boneka Ghawiah yang sebenarnya lucu layaknya boneka, tetapi nampak seram dengan wajah dan baju yang kotor-kotor gimana gitu. Di adegan pembuka inilah, penonton jadi tahu bahwa Ghawiah berasal dari sebuah pohon di Jalan Siliwangi, Bandung.

Lalu cerita beralih kepada pasangan suami istri Anya (Shandy Aulia) dan Daniel (Denny Sumargo). Daniel yang nampak lelah terlihat sedang naik angkutan umum. Sesampainya di kontrakan, Daniel membawa kabar gembira pada Anya bahwa mereka akan pindah ke Bandung. Daniel naik jabatan dan membeli rumah di Bandung, dia juga harus menangani proyek real estate di sana.

Sampai di Bandung, mereka langsung menempati rumah yang cukup besar. Saat berkenalan dengan tetangga bernama Niken, Anya mendapatkan cerita tentang dunia lain. Anya merasa tak begitu percaya dengan cerita itu.

Namun, ternyata Anya harus berurusan dengan dunia lain gara-gara ulah suaminya yang menebang pohon keramat di proyek. Ya, pohon tempat boneka Ghawiah berasal. Jadi, Ghawiah ini dulunya milik anak bernama Uci. Dia adalah anak korban perampokan sadis yang senang bermain di bawah pohon tersebut. Agar arwahnya tenang, warga menaruh bonekanya di atas pohon.

Nah, sampai di rumah, Daniel malah melihat Ghawiah di belakang mobilnya. Dia bilang pada Anya boneka itu sepertinya tak sengaja terbawa dari lokasi proyek. Anya yang pembuat boneka langsung mengambil Ghawiah dan menyimpannya di rak tempat boneka-boneka lain dipajang. Nah sinopsisnya cukup sampai di sini ya biar penasaran.

Di beberapa adegan, saya sempat terganggu dengan akting Shandy Aulia yang terlihat agak kaku. Hanya ada sedikit peningkatan jika dibandingkan aktingnya di Eiffel I’m In Love (2003) dulu. Chemistry-nya sebagai suami istri dengan Denny Sumargo sangat kurang. Denny pun masih kurang lepas dalam bermain.

Untungnya, kekurangan itu tertutup dengan feel dari kesuluruhan film yang mampu membuat penonton di bioskop jejeritan, termasuk saya. Kalau penonton lain ekstrim lho sampai-sampai jadi nggak berani liat ke layar, saya sih masih melototin layar walaupun sambil jerit-jerit dan remes-remes tangan suami (ehhhh, maap-maap, harusnya sensor ya hahaha).

Penampakan hantu anak perempuan kecil tampak tidak lebay, pas, dan cukup bikin meringis ngeri. Penampakan yang membuat saya mulai benar-benar menikmati sisi horor dari film ini adalah ketika ada anak perempuan kecil, dengan jas hujan hitam misterius berdiri di tengah hujan yang lebat. Misterius karena mukanya nggak kelihatan. Anya memanggil si anak masuk, dan saat itu tak ada Daniel di rumah.

Anya pun menelpon Niken memberi tahu bahwa ada anak kecil di rumahnya. Dari percakapan itu, penonton jadi tahu bahwa anak perempuan itu adalah Uci, si anak yang sudah meninggal itu, pemilik boneka Ghawiah… Aaaaakkkkk, saya langsung ngejerit saat Niken ngasih tahu hal itu ke Anya, apalagi petir semakin menggelegar. Kebayang dong, Anya yang sendirian di rumah dan suasana yang mencekam karena hujan deras, kedatangan… Aaaaakkkkk.

Lalu adegan anak Niken yang membunyikan lonceng kecil tanda mengajak bermain petak umpet pun cukup bikin saya deg-degan. Yang tampak hanya tangan anak kecil dan loncengnya di ujung ruangan, sungguh misterius. Belum tentu itu tangan anaknya Niken kan?

Nah benar saja, adegan itu rupanya cuma tanda ke penonton bahwa akan ada keseraman lain lewat adegan lonceng itu. Ya, karena nantinya hantu Uci pun akan memainkan adegan yang sama, aaaaakkkkk.

Sepanjang film, selain dengan jas hujan hitam, hantu Uci pun menampakkan diri dengan gaun putih. Seperti layaknya hantu, wajahnya abstrak alias tidak jelas. Hantu Uci itu memperlihatkan aura marah dan penuh dendam. Oh ya ingat ya jangan bawa anak-anak menonton fim ini, karena penuh adegan berdarah-darah juga.

Yang saya suka, film ini benar-benar mengedepankan cerita. Alurnya sukses bikin tegang. Di akhir film, kamu akan dapat kejutan cerita yang tak disangka-sangka (piye toh, kejutan ya jelas adalah sesuatu yang tak disangka-sangka ya? Hahaha, pemborosan kata-kata banget).

Dan yang saya bangga, film ini bebas dari adegan porno. Palingan ada adegan Anya cuma pake handuk sih, tergolong porno nggak? :). Sungguh, film The Doll ini nampak elegan untuk ukuran film horor Indonesia. Itu artinya, The Doll sekaligus memperlihatkan kemajuan yang signifikan di dunia film horor Indonesia. Lalu saya pun berdoa dalam hati agar ke depannya jangan sampai perfilman Indonesia yang sedang membaik ini teracuni lagi oleh kehadiran pasukan film horor porno.

Oh ya setting berupa rumah yang luas sangat mendukung efek seram film ini. Memang sih masih ada beberapa keganjilan dalam film, tetapi itu tak begitu menonjol kok karena kita akan terbawa sama filmnya.

Just info, sejak tayang 27 Oktober 2016, film ini sudah ditonton lebih dari 500.000 orang di Indonesia lho. Untuk ukuran film Indonesia, apalagi horor, ini pencapaian yang keren. Film ini juga ngasih pesan moral yang bagus banget. Sayangnya kalau saya jelaskan pesannya nantinya saya jadi bocor deh. Tonton sendiri aja ya!

 

Advertisements

Cantiknya Pulau Mengkudu

Nama Pulau Mengkudu mungkin masih asing di telinga. Namun, bagi masyarakat Lampung, Pulau Mengkudu merupakan objek wisata kekinian yang belakangan naik daun melalui media sosial. Saat ini, Pulau Mengkudu semakin dikenal luas tak hanya oleh masyarakat Lampung saja.

Lokasi Pulau Mengkudu tak jauh dari Batu Lapis, sebuah tempat indah yang kerap mendapat julukan sebagai Tanah Lot-nya Lampung. Batu Lapis ini menjadi semacam bonus bagi para pengunjung Pulau Mengkudu karena lokasinya yang berdekatan.

Keduanya terletak di wilayah Lampung Selatan, sebuah kabupaten yang menjadi pintu gerbang Provinsi Lampung. Di kabupaten inilah, terdapat Pelabuhan Bakauheni, tempat bersandar kapal-kapal yang mengangkut para penumpang dari Pulau Jawa, tepatnya dari Pelabuhan Merak.

Lampung Selatan sejatinya menyimpan potensi wisata bahari yang cukup kaya. Pulau Mengkudu dan Batu Lapis adalah bagian dari kepingan surga bahari Lampung Selatan.

Pulau Mengkudu berupa sebuah pulau mungil tak berpenghuni yang ada di Desa Batu Balak, Kecamatan Rajabasa. Pada 1980-an, di sana banyak dijumpai pohon mengkudu. Namun kini, pulau yang memiliki luas sekitar dua hektare tersebut ditumbuhi pohon bakau.

Nama Pulau Mengkudu dan Batu Lapis melejit setidaknya sejak akhir 2015. Keberadaan pasir timbul yang menjadi penghubung antara Pulau Mengkudu dan Pulau Sumatera merupakan keunikan tersendiri. Pasir timbul ini tidak akan terlihat ketika air laut pasang.

Pantai di sekitar Pulau Mengkudu memiliki pesona yang amat menghibur mata. Warna-warna yang menenangkan mulai dari kehijauan hingga kebiruan terpantul pada air laut yang jernih.

Edit 1

Mantap Kan???

Berenang di pantai di Pulau Mengkudu tidak berbahaya karena ombaknya relatif tenang. Hanya saja, sebaiknya memakai alas kaki yang nyaman saat menyusuri pantai karena di sekitar Pulau Mengkudu terdapat banyak bebatuan. Bagi para penggemar snorkeling, tak ada salahnya mencoba mengintip keindahan bawah laut di Pulau Mengkudu.

Pengunjung yang datang ke Pulau Mengkudu biasanya akan berburu pemandangan pulau ini dari ketinggian. Caranya, dengan menapaki sebuah bukit. Bagi yang punya energi ekstra, pengalaman yang satu ini patut dicoba. Namun, berhati-hatilah saat menanjak karena medan yang curam.

Sampai di atas bukit, akan nampak Pulau Mengkudu di tengah hamparan laut luas kebiruan. Pasir timbul terlihat seperti jembatan yang menyatukan dua pulau. Duduk sejenak di atas bukit untuk mengusir lelah sambil memandangi ciptaan-Nya itu, menjadi pilihan tepat sebelum melanjutkan untuk melakukan aktivitas lainnya.

Edit 2

Pemandangan dari atas bukit.

 

Edit 6

Pasir timbul penghubung si pulau kecil dengan pulau besar.

Edit 4

Numpang eksis.

Edit 7

Piknik dulu di Pulau Mengkudu.

Jika sudah puas menikmati Pulau Mengkudu, segera beralih ke Batu Lapis. Seperti namanya, di tempat ini pengunjung akan melihat sebuah tebing dengan batu yang berlapis-lapis, hasil ukiran tangan Sang Pencipta.

Dari atas bukit tempat menikmati panorama Pulau Mengkudu di ketinggian, pengunjung bisa menuruni bukit ke arah lokasi Batu Lapis. Berjalan kaki beberapa menit saja, keindahan Batu Lapis sudah siap untuk dinikmati.

Batu Lapis ini akan membuat mata mengagumi keunikannya. Bebatuan berundak-undak yang tertata rapi. Bebatuan dengan garis-garis yang terbentuk secara alami, itulah yang membangun estetika tempat tersebut. Apalagi dengan ombak yang menghantam dan laut biru jernih di dekatnya. Tak salah jika Batu Lapis mendapat julukan Tanah Lot-nya Lampung.

Edit 5

Batu Lapis nampak dari atas perahu.

Edit 3

Pengunjung ramai di Batu Lapis.

 

Edit 9

Batu Lapis nampak dari atas perahu (2).

Untuk menuju Pulau Mengkudu dan Batu Lapis, aksesnya cukup mudah. Jika dari arah Jakarta, sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, Anda dapat menjangkau daerah pesisir di Lampung Selatan dengan kendaraan pribadi maupun ojeg dalam waktu kurang lebih 45 menit saja. Sementara jika datang dari arah Kota Kalianda, jaraknya hanya sekitar 30 Km dan dapat menempuhnya dengan kendaraan pribadi maupun ojeg.

Ada dua cara menuju Pulau Mengkudu dan Batu Lapis yaitu melalui jalur darat dan jalur laut. Jalur darat untuk menuju Pulau Mengkudu ini kurang disarankan karena medannya tergolong sulit.

Jalur laut relatif lebih mudah. Ada beberapa titik persewaan perahu di daerah pesisir di Lampung Selatan untuk menuju Pulau Mengkudu dan Batu Lapis. Titik tersebut antara lain di Desa Kunjir dan Desa Waymuli. Pengunjung  bisa menyewa perahu dengan biaya murah yaitu Rp25.000-Rp30.000 per orang untuk mengunjungi Pulau Mengkudu dan Batu Lapis.

Perjalanan naik perahu hanya memakan waktu kurang lebih 20 menit. Di atas perahu, pemandangan indah pun sudah terlihat. Laut kehijauan dan desa nelayan dari kejauhan dengan latar belakang perbukitan nan hijau. Perjalanan itupun hanya akan terasa seperti sekejap mata.

Edit 8

Pemandangan desa dari atas perahu saat menuju Pulau Mengkudu.

Edit 10

Perahu pengantar ke Pulau Mengkudu.

Usai menikmati Pulau Mengkudu dan Batu Lapis, cobalah untuk melirik-lirik pantai-pantai yang ada di sepanjang pesisir di Lampung Selatan. Meski pantai-pantai di sana tak begitu luas dan berhimpitan dengan desa nelayan, tetapi kecantikannya patut dinikmati.

Pantai Wartawan misalnya, yang terletak di Desa Waymuli, Kecamatan Rajabasa. Sebuah pantai yang tak terlalu luas tetapi memiliki keunikan yaitu keberadaan sumber air panas. Para pengunjung bahkan dapat memanfaatkan sumber air panas ini untuk merebus telur. Ada pula Pantai Canti dengan hamparan pasir putihnya. Saung-saung yang ada diantara rimbunnya pepohonan melengkapi keindahan pantai ini. Pengunjung dapat menggunakan saung ini untuk duduk-duduk santai atau rebahan, atau sekedar menatap pulau-pulau kecil di kejauhan.

 

Tip:

-Pilih jalur laut untuk menuju Pulau Mengkudu dan Batu Lapis.

-Siapkan tenaga agar lebih puas mengeksplorasi Pulau Mengkudu dan Batu Lapis.

-Pakai alas kaki yang nyaman digunakan untuk berjalan di medan yang sulit, sebaiknya menggunakan sandal.

-Belum banyak penginapan di sekitar lokasi. Salah satu pilihan menginap adalah di area Krakatau Kahai Beach (tak jauh dari Pulau Mengkudu dan Batu Lapis). Atau Anda dapat menginap di hotel yang terletak di Kota Kalianda yang berjarak sekitar 30 Km dari lokasi.

-Kota Kalianda juga sekaligus menjadi tempat yang tepat untuk berburu oleh-oleh berupa makanan khas.

Tulisan ini juga dipublikasikan di Bisnis Indonesia Weekend dan Bisnis.com:

http://traveling.bisnis.com/read/20160610/224/556376/pulau-mengkudu-surga-bahari-di-lampung-selatan

Bisnis